Tendangan Dari Langit

September 5, 2011 1 comment

Awalnya jujur saya sama sekali tidak tertarik menyaksikan film ini karena posternya yg terlihat murahan. Tapi justru saya makin penasaran karena semua review dari berbagai media yang mengulas film ini membuat kesimpulan yg sama. Positif. Saat itu saya hanya berpikiran bahwa film ini hanya menjual nama besar Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Baru kemudian saya tahu bahwa sutradaranya adalah Hanung Bramantyo yg sebelumnya sukses membesut film Sang Pencerah.

Dan setelah saya menyaksikan filmnya. Saya benar2 terlonjak kegirangan, lagi2 Hanung berhasil menciptakan sebuah film yang sungguh brilian, sekalipun memasang muka baru sebagai pemain utamanya. Akting yang baik, chemistry yg kuat diantara para pemain dan cerita yg menohok memang nyaris membuat film ini sempurna. Kalaupun ada kekurangan mungkin dari segi cerita, karena ada sebuah konflik yang sayangnya agak dibuat2 jadi terkesan agak dipaksakan. Tapi percayalah, itu hanyalah masalah minor yg tidak terlalu mempengaruhi jalinan keseluruhan ceritanya yang memang ciamik.

Oh ya jangan lupakan kritik2 pedas yg tersebar di sepanjang film ini, tajam tapi dikemas dengan baik sehingga tak terkesan menggurui. Yah kira2 memang begitulah potret buram persepakbolaan di negeri ini. Film ini memang wajib ditonton. Tak percaya? Jangan salahkan saya jika anda merasa ingin standing ovation di bioskop saat mendengar kata2 terakhir yg diucapkan oleh Wahyu sebelum credit title bergulir.

TV LCD Baru

April 7, 2011 Leave a comment

Ceritanya kemarin itu saya melihat ada iklan TV LCD murah di surat kabar. Maka pulang kantor saya sempatkan mampir ke hyper market yang mengiklankan tersebut. Dan, yay, akhirnya saya membawa pulang sebuah TV LCD mini berukuran 22″. Memang ukurannya tidaklah besar, tapi saya rasa cukuplah untuk diletakkan di kamar. Lumayan untuk menyaksikan film2 hasil download. Dahulu memang saya hanya bisa menyaksikan film2 tersbut via netbook mungil saya yang ukuran monitornya hanya 10″.

Idealnya sih saya membeli sebuah alat lagi, High Definition Media Player. Tapi untuk itu saya harus merogoh kocek lagi sekitar Rp 900.000an untuk sebuah HD media player murah tapi branded. Itu pun agak susah dicarinya, harus hunting dulu ke mangga dua, atau kalau malas jalan, bisa pesan antar via inet. Dan saya memutuskan, untuk saat ini, saya belum membutuhkan alat tersebut. Jadi saya cukup membeli sebuah kabel VGA untuk menghubunngkan netbook dengan TV LCD saya. Read more…

Categories: Ngoceh Film Tags: , , , ,

Tak Hanya Sekadar Godaan Mrs Robinson (via Dunia Platonis)

April 7, 2011 Leave a comment

Resensi menarik dari seorang kawan tentang film lawas yang sangat layak tonton, The Graduate

Tak Hanya Sekadar Godaan Mrs Robinson   Sungguh menakjubkan untuk dapat menyaksikan The Graduate 44 tahun setelah dirilis. Tidak hanya mengakui kemahiran Mike Nichols (Closer, Charlie Wilson’s War) membesut film sepanjang empat dasawarsa lebih, tetapi jalan cerita yang relatif masih dapat diterima hingga kiwari. Banyak yang mengenang The Graduate dengan line termasyhurnya, “Are you try … Read More

via Dunia Platonis

Categories: ReBlog, Review Film

Flipped

April 7, 2011 Leave a comment

Saat membaca resensi film ini di IMDB, saya pikir ini hanya sekedar film cinta monyet biasa. Ternyata yang saya dapat lebih dari itu, jauh lebih banyak dan lebih baik dari yang saya perkirakan sebalumnya.

Film adaptasi novel yang disutradarai oleh Rob Reiner ini memang tidak hanya bercerita tentang kisah cinta anak SD yang beranjak SMP, Bryce Loski dan Julianna Baker. Tapi di dalamnya terselip juga kisah mengharukan tentang masalah keluarga, hubungan antar tetangga dan juga kasih sayang seorang kakak kepada adiknya

Keburukan keluarga Baker di mata keluarga Loski sangat menarik untuk disimak. Sekali lagi kita diingatkan bahwa jangan terlalu mudah memberikan pandangan tentang apa yang sebenarnya tidak ketahui. Don’t judge a book by its cover, tak kenal maka tak sayang. Simak pula ketika Bryce berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Juli, tapi ternyata tindakan tersebut malah membuat hati Juli pedih dan malah membenci Bryce.

Oh ya, pemaparan cerita di film ini menggunakan alur maju mundur. Setiap kisah diceritakan dalam 2 sudut pandang, diawali oleh Bryce dan kemudian dilanjutkan oleh Juli. Banyak monolog yang menarik, menyentuh, dan cukup berhasil mengaduk emosi penonton. Salah satu kalimat yang saya suka kira2 bunyinya begini: “Kami memang bukan orang kaya, tapi kami tidak pernah merasa kekurangan”. Ouch, sungguh menohok di hati. Chemistry antara Juli dan Bryce juga terjalin dengan sangat baik dalam kisah love-hate relationship ini.

Ah, Flipped ini memang benar2 sebuah film keluarga yang sangat manis, dan telah lama saya rindukan kehadirannya.

RAN

January 13, 2011 3 comments

Ran, inilah film kolosal terakhir Akira Kurosawa yang dibuat dengan budget besar. Bercerita tentang suksesi kepemimpinan War Lord Ichimonji yang yang ternyata berakhir tidak sukses. Rencana yang disusun oleh Hidetora tua, sang pimpinan klan Ichimonji, untuk membagi kekuasaan kepada ketiga anak laki2nya, Taro, Jiro, dan Saburo ternyata berbuah tragis dan dipenuhi oleh genangan darah.

Film yang berdurasi 160 menit ini memang cukup membosankan, tetapi walaupun berpotensi untuk membuat ngantuk, ceritanya cukup membuat saya penasaran dan menyaksikan sampai filmnya berakhir. Diawali dengan pembagian kekuasaan yang tragis, film ini berakhir dengan lebih tragis lagi, membuat RAN sangat pas untuk masuk kategori nihilis. Ya, bahkan para dewa tak mampu menyelamatkan umat manusia kali ini :p

Walaupun film kolosal, tetapi ciri khas Akira Kurosawa dalam menampilkan akting yang kuat memang tak pernah pudar. Yang paling menonjol, tentu saja ditunjukkan oleh pemeran Lord Ichimonji sendiri, Hidetora, yang beranjak tua dan kemudian kehilangan kewarasannya. Dan yang tak kalah kuatnya, bukan ketiga anak Hidetora, melainkan Lady Kaede yang merupakan istri dari putra pertama Hidetora. Wuh, aktingnya sangat memukau dengan menampilkan seorang istri yang sangat ambisius dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Jadi, ada baiknya siapkan diri anda terlebih dahulu sebelum menyaksikan film ini, jangan sampai mengantuk di tengah jalan saat menyaksikan sajian berkualitas dari sang maestro Akira Kurosawa.

Madadayo

January 8, 2011 Leave a comment

Inilah, film terakhir yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Walaupun mendapat respon yang kurang bagus dari publik, entah mengapa, saya sangat menyukai film beliau yang terakhir ini. Dari 3 filmnya yang sudah pernah saya saksikan, rasa2nya Madadyo menjadi yang terfavorit.

Filmnya sendiri, seakan terdiri dari beberapa cerita yang terhubung satu sama lain, mulai dari ketika sang profesor mengundurkan diri dari kampus, hingga perayaan ultahnya terakhir bersama mantan murid2nya. Menonton madadayo ini seperti menyaksikan beberapa film drama pendek yang dirangkum ke dalam satu film panjang.

Bisa dibilang film ini adalah film yang membosankan. Karena durasi yang panjang (134 menit) hanya dipenuhi oleh dialog2 sang profesor dengan murid2nya. Tapi entah kenapa saya tidak merasa bosan dengan film ini, justru saya sangat menikmati cerita2 yang dihadirkan dalam film yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini.

Turut tertawa ketika melihat lucunya cara si Profesor dalam menghadapi pencuri yang mungkin masuk ke rumahnya. Ikut sedih melihat rumah gubuk yang ditempati beliau dan sang istri paska perang dunia kedua. Trenyuh melihat kebaikan tetangga baru beliau. Bahkan cerita simpel tentang kehilangan kucing pun bisa menjadi kisah yang menarik di tangan Akira Kurosawa.

Belum lagi pesta ultah yang belakangan diadakan untuk menghormati Profesor dalam usia tuanya. Benar2 sangat dalam maknanya. Lihat saja jawaban madadayo (not yet) yang selalu diberikan oleh Profesor. Apakah itu berarti bahwa: setiap manusia takkan pernah siap untuk mati, tak peduli seberapa senior maupun seberapa banyak bekal yang kita miliki. Ya itulah manusia, selalu takut akan kematian.

Atau: bisa juga kan kita berpikir lebih positif? Tak peduli seberapa terpuruk keadaan kita, sebarapa buruk hari yang kita lalui, asal kita masih punya semangat yang menyala untuk tetap hidup untuk berkarya, semuanya pasti akan bisa kita lalui dengan baik.

Tapi yang pasti, sentuhan Akira Kurosawa membuat film yang sederhana ini menjadi menarik untuk ditonton. Rasanya seperti, sang maestro menumpahkan seluruh jiwanya ke dalam film ini. Segar dan bersemangat.

Categories: Review Film Tags: ,

Rashomon

January 7, 2011 Leave a comment

Cukup dua kata sebenarnya untuk menjelaskan film ini: A Classic Masterpiece.

Sebuah sajian maha karya dari sang maestro Akira Kurosawa. Film ini sangat unik dan orisinil, karena bercerita tentang 3 kesaksian terhadap sebuah pembunuhan dan perkosaan yang dilakukan oleh seorang bandit. Semua kesaksian bertentangan satu sama lain dan sepertinya terkandung kebohongan di dalamnya.

Sebuah surprise muncul di akhir ketika ternyata masih ada 1 kesaksian lagi yang rasa2nya lebih dapat dipercaya. Sebuah kesaksian yang indpenden dan tidak mempunyai kepentingan di dalamnya.

Untuk sebuah film yang dirilis tahun 1950, Rashomon memang bisa dibilang sebagai pelopor film yang bergaya mutiple point of views. Tak heran film ini banyak mendapatkan penghargaan di mana2. Rashomon juga banyak memberi pengaruh pada film2 bergaya sejenis. Misalnya saja Hero yang diperankan oleh Jet Li.

Categories: Review Film Tags: ,

Shrek Forever After

January 6, 2011 Leave a comment

Shrek.

Makhluk seram berwarna hijau ini dulu pernah menjadi karakter animasi favorit saya. Ceritanya unik dan sangat lucu dengan memutarbalikkan cerita dongeng kanak2.

Shrek juga salah satu film animasi, di mana seri keduanya berhasil mengungguli film originalnya dalam hal kualitas (well, setidaknya menurut saya). Tapi sayang keberhasilan ini tidak diikuti oleh film ketiganya, ceritanya berubah menjadi membosankan dan leluconnya tak lagi lucu.

Lalu muncullah film ke-4 (oh no). Tapi toh saya tak lagi berharap banyak pada film ini. Shrek Forever After menurut saya terlalu banyak mengulangi formula yang telah ada pada film2 Shrek sebelumnya. Miskin orisinalitas. Walaupun demikian, Shrek 4 ini setidaknya menyajikan lelucon yang lebih segar dibandingkan Shrek 3 yang hancur lebur.

Bila tim kreatif Dreamworks tidak lagi memiliki ide2 kreatif untuk membangkitkan Shrek, ada baiknya mereka berbesar hati untuk berhenti membuat film tentang Ogre hijau ini. Tapi yah, apa mau dikata penjualan tiket Shrek di seluruh dunia terbilang sangat fantastis, rasanya tak mustahil akan muncul sequel berikutnya.

Bersiaplah.

How to Train Your Dragon

January 5, 2011 Leave a comment

Dreamworks memang tidak sebrilian Pixar yang sejauh ini belum pernah membuat film yang mengecewakan. Tapi film ini saya akui, setara dengan standar film yang dicapai oleh Pixar.

Walaupun premisnya sangat simpel, tentang seorang bocah cupu yang berhasil berteman dengan naga paling liar sedunia, tetapi HTTYD berhasil membawa penonton larut dalam dongeng viking. Sebuah dongeng tentang perseteruan abadi antara manusia dengan naga.

Dibalut dengan cerita yang menarik dan lelucon yang segar, film ini menjadi lengkap dengan adegan pertempuran di udara yang menawan. Film yang tidak hanya menghibur anak2, tetapi juga enak ditonton bagi para dewasa. Karakter yang ditampilkan dalam film ini juga kuat dan memiliki chemistry yang baik. Baik antara sesama manusia (opo iki?) maupun dengan sang naga yang pada awalnya digambarkan mengerikan tetapi ternyata cukup imut dan adorable.

Dan, ah ya… Sebuah sequel telah menanti di tahun 2013.

The Social Network

January 3, 2011 Leave a comment

Ini film favorit saya di tahun 2010 kemarin. Agak susah juga kalau harus disuruh memilih mana yang terbaik di antara Toy Story 3 dan TSN. Banyak yang pesimis dengan film ini awalnya, apalagi popularitas Facebook akhir2 ini mendapat ancaman hebat dari Twitter. Tapi jujur saja, hanya sedikit orang bukan, yang benar2 meninggalkan Facebook? Saya termasuk yang banyak berharap pada film ini. Apalagi melihat sutradaranya: David Fincher. Kebetulan saya sangat terkesan dengan filmnya yang terdahulu: The Curious Case of Benjamin Button.

Dan ternyata benar, lagi2 David Fincher berhasil membuat saya takjub. Dari awal penonton sudah disodori oleh sebuah cerita yang digarap dengan sangat baik. Intrik2 yang terjadi pra maupun paska dibangunnya jejaring sosial nomer wahid di dunia, Facebook, disajikan dengan apik dan membuat penonton geleng2 kepala. Ya, kekuatan utama dari kisah ini memang ada pada dialog2 tajam yang dilontarkan para pemainnya. Tidak ada kata yang mubazir terucap, semuanya meluncur deras bak rentetan tembakan Shotgun, mematikan. Begitu banyak punchline yang menjadikan film ini begitu menarik dan jauh dari kategori membosankan.

Para pemain berakting dengan baik dan masing2 memiliki chemistry yang kuat. Ouch ya, tapi memang harus diakui, para aktris terkesan hanya sebagai tempelan belaka di film ini, pelengkap cerita. Semua kekuatan seakan2 memang didominasi oleh kaum Adam. Jesse Eisenberg dan Andrew Garfield berakting dengan sangat baik. Bahkan Justin Timberlake tak disangka2 juga bermain bagus memerankan si pencipta Napster.

Sebuah film terbaik di tahun 2010 yang cocok bersanding dengan Inception dan Toy Story 3.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.