Archive

Archive for August, 2010

Home

August 31, 2010 Leave a comment

Sebuah film dokumenter non profit yang tidak mempunyai hak cipta. Alias, semua bisa mendapatkannya secara gratis, mendownload film di mana pun servernya menjadi legal hukumnya.

Tadinya saya berpikir kalau film ini seperti film Earth dan Ocean yang diproduksi oleh BBC. Oh tapi ternyata temanya agak berbeda. Home lebih bercerita tentang perusakan lingkungan yang dilakukan oleh kalifah planet ini, manusia. Tema kerusakan lingkungan memang sudah sering diangkat, tapi film dokumenter ini menawarkan gambar2 yang sangat indah, sebagian besar di-shoot dari udara, tinggi di atas permukaan bumi. Ya, sinematografinya benar2 jempolan, menghasilkan gambar2 indah penuh warna yang menyejukkan mata. Read more…

3 Idiots

August 24, 2010 Leave a comment

Setelah kemarin terpuaskan oleh My Name is Khan. Kini saya kembali menyaksikan film Bollywood yang sempat menghebohkan pecinta film di Indonesia, 3 Idiots.

Kisahnya sendiri becerita tentang pencarian seorang teman lama yang kini tak tentu rimbanya. Dengan alur yang diset maju mundur, penonton dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi kemudian.

Seperti kebanyakan film India (halah kayak sering nonton film india saja kau, Sky *dikeplak*) cukup banyak adegan yang hiperbola dan jokes2 yang garing pada film ini. Tapi jangan salah, saya termasuk yang menyukai film ini kok.  Bahkan ada 1 adegan favorit saya yang imo sangat memorable, yaitu adegan helikopter kecil dengan kamera pengintai, sungguh orisinil dan brilian!

Selain menghibur dengan ceritanya yang lucu, film ini juga menawarkan pesan moral yang mendalam tentang dunia pendidikan dan arti persahabatan. Saya cukup terperangah juga saat menerima pesan yang ingin disampaikan film ini.  Sesaat pikiran saya menerawang jauh teringat dengan sebuah film lawas, The Wizard of Oz.

3 Idiots menyajikan hiburan yang lengkap dan rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Nine

August 11, 2010 3 comments

Jujur yang membuat saya tertarik menyaksikan film ini adalah Penelope Cruz Daniel Day-Lewis, penasaran juga dengan aktingnya di film musikal ini. Dan ternyata Day-Lewis berhasil membawakan tokoh Guido Contini dengan sangat baik.

Perannya yang terlihat sangat rapuh sebagai seorang sutradara yang sedang mengalami pasang surut dalam karirnya sebagai sutradara benar2 membuat saya lupa bahwa ia pernah bermain dalam Gangs of New York dan There Will be Blood.

Oh ya, saya agak surprise juga melihat akting Kate Hudson di sini. Walaupun mendapatkan porsi yang tidak besar tapi ia benar2 tampil menggebrak dengan tarian dan nyanyiannya di lagu Cinema Italiano. Alhasil scene itu langsung jadi favorit saya. Selain itu saya juga menyukai performa Marion Cottilard, lembut dan manis di awal, eh ternyata bisa tampil liar juga saat mendekati klimaks. Lalu bagaimana dengan Penelope Cruz? Hm hm no comment deh, saksikan sendiri saja ya :D

Terlepas dari hasil komersialnya yang flop dan ponten jeblok yang diberikan oleh para kritikus, film ini cukup menghibur dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Biar bagaimanapun, menurut hemat saya, Rob Marshall berhasil memindahkan panggung broadway yang megah ke dalam format layar lebar. Bravo

5 Centimeters Per Second

August 11, 2010 Leave a comment

Makoto Shinkai, dianggap sebagai penerus Miyazaki Hayao, tapi terus terang, saya belum pernah menyaksikan karyanya. Ini yang pertama kalinya (tidak disengaja pula).

Film yang hanya berdurasi sekitar 60 menit ini dibagi menjadi 3 bagian (dengan 3 judul). Masa kecil, masa remaja, dan dewasa. Ceritanya simpel, tentang kisah cinta dan kasih yang tak sampai (halah). Mulai dari long distance relantionship hingga rindu yang tak pernah padam.

Animasinya sangat indah, hingga ke detail yang terkecil. Lagi2 saya dibuat terkagum2 dengan industri anime negeri Sakura. Music score yang didominasi dengan denting piano juga sangat aduhai, membawa penonton terhanyut dengan kisah yang mengharu biru.

Ditutup dengan lagu merdu berjudul One More Time, One More Chance yang dibawakan  dengan sangat apik oleh Masayoshi Yamazaki, penonton dibawa kepada emding yang agak menggantung.

Cengeng? Bisa jadi. Tapi bagi seseorang yang pernah mengalaminya, menunggu dan mencari sang pujaan hati yang kini entah di mana, mungkin menjadi masuk akal. Maka berilah kami kesempatan, sekali saja, untuk bisa bertemu lagi dengannya

Categories: Review Film Tags: , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.