Home
Sebuah film dokumenter non profit yang tidak mempunyai hak cipta. Alias, semua bisa mendapatkannya secara gratis, mendownload film di mana pun servernya menjadi legal hukumnya.
Tadinya saya berpikir kalau film ini seperti film Earth dan Ocean yang diproduksi oleh BBC. Oh tapi ternyata temanya agak berbeda. Home lebih bercerita tentang perusakan lingkungan yang dilakukan oleh kalifah planet ini, manusia. Tema kerusakan lingkungan memang sudah sering diangkat, tapi film dokumenter ini menawarkan gambar2 yang sangat indah, sebagian besar di-shoot dari udara, tinggi di atas permukaan bumi. Ya, sinematografinya benar2 jempolan, menghasilkan gambar2 indah penuh warna yang menyejukkan mata.
Isu lingkungan hidup yang diangkat antara lain adalah: penebangan hutan besar2an, gaya hidup manusia yang ketergantungan dengan energi fosil, efek rumah kaca akibat pemakaian bahan bakar fosil tsb, sampai kepada isu pemanasan global yang diakibatkan oleh efek rumah kaca. Semuanya memang saling terhubung, dan penyebabnya? Manusia.
Manusia adalah virus, begitu yang dikatakan Agent Smith dalam film The Matrix. Dan sepertinya film ini merupakan penjabaran dari quote tadi. Manusia memiliki kecerdasan yang sangat hebat, jauh di atas makhluk2 lain. Manusia memanfaatkan ilmunya untuk membuat lebih hidup lebih mudah dan nyaman, tanpa peduli efeknya akan menghancurkan bumi ini.
Yang sangat menarik adalah ketika disebutkan manusia mengorbankan hutan, sumber daya air, dan bahan bakar minyak hanya untuk sekilogram daging. Kita menebang hutan untuk dijadikan ladang jagung dan kedelai untuk…. pakan ternak! Benar2 sebuah pertukaran yang sangat tidak masuk akal.
Sepanjang film kita diajak untuk melihat apa yang telah kita lakukan terhadap tempat tinggal kita, planet biru tempat kita berpijak, tempat menghabiskan hidup mulai dari lahir sampai meninggal, yang nantinya akan diwariskan kepada anak cucu kita secara turun temurun. Memang agak mengerikan juga sih kalau disimak. Saksikan film ini, maka kita tahu kalau Tuhan sebenarnya tidak perlu melakukan apa2 untuk menciptakan kiamat, karena kita sudah merancang hari akhir itu dengan apa yang kita lakukan saat ini.
Mengerikan memang, tapi itulah kenyataannya. Tetapi paling tidak, di akhir film semua hal2 negatif tersebut diputar 180 derajat menjadi positif. Dengan kalimat: It’s too late to be a pessimist, kita diajak untuk mengubah gaya hidup. Bumi masih bisa diselamatkan dengan melestarikan hutan, pemeliharaan sungai dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.
Hm bagus, setidaknya masih ada hal positif di akhir film, pertanyaannya adalah: Maukah kita berubah? Maukah kita meninggalkan comfort zone demi masa depan yang lebih baik? Hanya kita yang bisa menjawabnya.
