Home > Review Film > Madadayo

Madadayo

Inilah, film terakhir yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Walaupun mendapat respon yang kurang bagus dari publik, entah mengapa, saya sangat menyukai film beliau yang terakhir ini. Dari 3 filmnya yang sudah pernah saya saksikan, rasa2nya Madadyo menjadi yang terfavorit.

Filmnya sendiri, seakan terdiri dari beberapa cerita yang terhubung satu sama lain, mulai dari ketika sang profesor mengundurkan diri dari kampus, hingga perayaan ultahnya terakhir bersama mantan murid2nya. Menonton madadayo ini seperti menyaksikan beberapa film drama pendek yang dirangkum ke dalam satu film panjang.

Bisa dibilang film ini adalah film yang membosankan. Karena durasi yang panjang (134 menit) hanya dipenuhi oleh dialog2 sang profesor dengan murid2nya. Tapi entah kenapa saya tidak merasa bosan dengan film ini, justru saya sangat menikmati cerita2 yang dihadirkan dalam film yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini.

Turut tertawa ketika melihat lucunya cara si Profesor dalam menghadapi pencuri yang mungkin masuk ke rumahnya. Ikut sedih melihat rumah gubuk yang ditempati beliau dan sang istri paska perang dunia kedua. Trenyuh melihat kebaikan tetangga baru beliau. Bahkan cerita simpel tentang kehilangan kucing pun bisa menjadi kisah yang menarik di tangan Akira Kurosawa.

Belum lagi pesta ultah yang belakangan diadakan untuk menghormati Profesor dalam usia tuanya. Benar2 sangat dalam maknanya. Lihat saja jawaban madadayo (not yet) yang selalu diberikan oleh Profesor. Apakah itu berarti bahwa: setiap manusia takkan pernah siap untuk mati, tak peduli seberapa senior maupun seberapa banyak bekal yang kita miliki. Ya itulah manusia, selalu takut akan kematian.

Atau: bisa juga kan kita berpikir lebih positif? Tak peduli seberapa terpuruk keadaan kita, sebarapa buruk hari yang kita lalui, asal kita masih punya semangat yang menyala untuk tetap hidup untuk berkarya, semuanya pasti akan bisa kita lalui dengan baik.

Tapi yang pasti, sentuhan Akira Kurosawa membuat film yang sederhana ini menjadi menarik untuk ditonton. Rasanya seperti, sang maestro menumpahkan seluruh jiwanya ke dalam film ini. Segar dan bersemangat.

Categories: Review Film Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.