Archive

Posts Tagged ‘Akira Kurosawa’

RAN

January 13, 2011 3 comments

Ran, inilah film kolosal terakhir Akira Kurosawa yang dibuat dengan budget besar. Bercerita tentang suksesi kepemimpinan War Lord Ichimonji yang yang ternyata berakhir tidak sukses. Rencana yang disusun oleh Hidetora tua, sang pimpinan klan Ichimonji, untuk membagi kekuasaan kepada ketiga anak laki2nya, Taro, Jiro, dan Saburo ternyata berbuah tragis dan dipenuhi oleh genangan darah.

Film yang berdurasi 160 menit ini memang cukup membosankan, tetapi walaupun berpotensi untuk membuat ngantuk, ceritanya cukup membuat saya penasaran dan menyaksikan sampai filmnya berakhir. Diawali dengan pembagian kekuasaan yang tragis, film ini berakhir dengan lebih tragis lagi, membuat RAN sangat pas untuk masuk kategori nihilis. Ya, bahkan para dewa tak mampu menyelamatkan umat manusia kali ini :p

Walaupun film kolosal, tetapi ciri khas Akira Kurosawa dalam menampilkan akting yang kuat memang tak pernah pudar. Yang paling menonjol, tentu saja ditunjukkan oleh pemeran Lord Ichimonji sendiri, Hidetora, yang beranjak tua dan kemudian kehilangan kewarasannya. Dan yang tak kalah kuatnya, bukan ketiga anak Hidetora, melainkan Lady Kaede yang merupakan istri dari putra pertama Hidetora. Wuh, aktingnya sangat memukau dengan menampilkan seorang istri yang sangat ambisius dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Jadi, ada baiknya siapkan diri anda terlebih dahulu sebelum menyaksikan film ini, jangan sampai mengantuk di tengah jalan saat menyaksikan sajian berkualitas dari sang maestro Akira Kurosawa.

Madadayo

January 8, 2011 Leave a comment

Inilah, film terakhir yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Walaupun mendapat respon yang kurang bagus dari publik, entah mengapa, saya sangat menyukai film beliau yang terakhir ini. Dari 3 filmnya yang sudah pernah saya saksikan, rasa2nya Madadyo menjadi yang terfavorit.

Filmnya sendiri, seakan terdiri dari beberapa cerita yang terhubung satu sama lain, mulai dari ketika sang profesor mengundurkan diri dari kampus, hingga perayaan ultahnya terakhir bersama mantan murid2nya. Menonton madadayo ini seperti menyaksikan beberapa film drama pendek yang dirangkum ke dalam satu film panjang.

Bisa dibilang film ini adalah film yang membosankan. Karena durasi yang panjang (134 menit) hanya dipenuhi oleh dialog2 sang profesor dengan murid2nya. Tapi entah kenapa saya tidak merasa bosan dengan film ini, justru saya sangat menikmati cerita2 yang dihadirkan dalam film yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini.

Turut tertawa ketika melihat lucunya cara si Profesor dalam menghadapi pencuri yang mungkin masuk ke rumahnya. Ikut sedih melihat rumah gubuk yang ditempati beliau dan sang istri paska perang dunia kedua. Trenyuh melihat kebaikan tetangga baru beliau. Bahkan cerita simpel tentang kehilangan kucing pun bisa menjadi kisah yang menarik di tangan Akira Kurosawa.

Belum lagi pesta ultah yang belakangan diadakan untuk menghormati Profesor dalam usia tuanya. Benar2 sangat dalam maknanya. Lihat saja jawaban madadayo (not yet) yang selalu diberikan oleh Profesor. Apakah itu berarti bahwa: setiap manusia takkan pernah siap untuk mati, tak peduli seberapa senior maupun seberapa banyak bekal yang kita miliki. Ya itulah manusia, selalu takut akan kematian.

Atau: bisa juga kan kita berpikir lebih positif? Tak peduli seberapa terpuruk keadaan kita, sebarapa buruk hari yang kita lalui, asal kita masih punya semangat yang menyala untuk tetap hidup untuk berkarya, semuanya pasti akan bisa kita lalui dengan baik.

Tapi yang pasti, sentuhan Akira Kurosawa membuat film yang sederhana ini menjadi menarik untuk ditonton. Rasanya seperti, sang maestro menumpahkan seluruh jiwanya ke dalam film ini. Segar dan bersemangat.

Categories: Review Film Tags: ,

Rashomon

January 7, 2011 Leave a comment

Cukup dua kata sebenarnya untuk menjelaskan film ini: A Classic Masterpiece.

Sebuah sajian maha karya dari sang maestro Akira Kurosawa. Film ini sangat unik dan orisinil, karena bercerita tentang 3 kesaksian terhadap sebuah pembunuhan dan perkosaan yang dilakukan oleh seorang bandit. Semua kesaksian bertentangan satu sama lain dan sepertinya terkandung kebohongan di dalamnya.

Sebuah surprise muncul di akhir ketika ternyata masih ada 1 kesaksian lagi yang rasa2nya lebih dapat dipercaya. Sebuah kesaksian yang indpenden dan tidak mempunyai kepentingan di dalamnya.

Untuk sebuah film yang dirilis tahun 1950, Rashomon memang bisa dibilang sebagai pelopor film yang bergaya mutiple point of views. Tak heran film ini banyak mendapatkan penghargaan di mana2. Rashomon juga banyak memberi pengaruh pada film2 bergaya sejenis. Misalnya saja Hero yang diperankan oleh Jet Li.

Categories: Review Film Tags: ,

Seven Samurai

May 9, 2010 Leave a comment

7 Pendekar Samurai berjuang untuk menyelamatkan sebuah desa kecil dari komplotan bandit yang akan merampas hasil panen, tanpa mengharap ketenaran apalagi nama besar, dan hanya dibayar dengan makan. ya makan semangkuk nasi 3x sehari.

Tapi jangan berharap ada aksi2 heroik dalam film ini, apalagi duel pedang layaknya film Zatoichi. Akira Kurosawa menggarap film ini senyata mungkin, hingga hasilnya begitu membumi. Yang terpenting bagaimana mengalahkan lawan dengan cepat dan efisien, aksi heroik hanya akan menghambat dan menimbulkan kerugian.

Menarik menyaksikan bagaimana warga desa merekrut para samurai yang masing2 memiliki karakter yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing2. Ada yang bijaksana, dingin, sampai yang lucu dan membuat warga desa tertawa. Film ini memiliki premis menarik, tak hanya menjual aksi2 memukau, tapi hubungan yang terjalin antara samurai dengan para petani juga cukup menarik untuk disimak.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.