Sepintas saat menyaksikan film ini, saya teringat oleh sebuah dokumenter di Natgeo yang mengisahkan sepasang suami istri yang memiliki Kebun Binatang sendiri. Tetapi bedanya, dalam film ini, Benjamin baru saja ditinggal istrinya dan harus menjadi single parent bagi Dylan yang pemberontak dan Maggie kecil yang lucu dan menggemaskan.
Kisahnya sendiri bercerita tentang Benjamin yang tiba2 mengambil keputusan nekat dan akan mengubah hidup keluarga Mee selamanya dengan membeli rumah baru dan sekaligus dengan kebun binatang yang ada di area tersebut, jauh dari pusat keramaian. Ya, selain berkutat dengan masalah zoo management yang mengalami maslah finansial, film ini juga mengangkat bagaimana Benjamin harus move on dari pekerjaan lamanya dan juga dari istrinya yang baru saja meninggal. Belum lagi masalah klise yang harus dihadapi Benjamin, menghadapi perilaku Dylan yang berubah menjadi temperamental semenjak ditinggal oleh ibunya.
Tapi syukurlah ada Maggie, bocah perempuan lucu yang berhasil menjadi scene stealer dalam film ini. Tingkahnya yang begitu polos dan menggemaskan benar2 menghibur, salut lah untuk aktingnya dalam film ini. Adegan ketika memilah barang saat akan pindahan pun langsung menjadi favorit saya, lucu sekali mimik muka si Maggie.
Akhir kata, We Bought a Zoo adalah film keluarga yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kehidupan memang terkadang bisa menjadi sangat sulit, tetapi hanya butuh keberanian selama 20 detik untuk mengambil sebuah keputusan yang sesuai dengan yang kita inginkan. Jadi, beranikah anda meninggalkan zona nyaman anda?
Awalnya saya tertarik untuk membaca novelnya yang berdasarkan kisah nyata keluarga Grogan, apa daya akhirnya cerita tentang seekor anjing Labrador dan kehidupannya bersama keluarga Grogan hanya bisa saya nikmati versi layar lebarnya saja.
Dan seperti yang saya duga ceritanya memang sangat menarik, tidak hanya sedih dan mengharukan, tetapi banyak juga hal2 lucu akibat ulah Marley si anjing yang sangat bandel ini. Suka duka keluarga Grogan tak pernah terlepas dari kehadiran Marley di dalamnya.
Chemistry yang baik di antara Owen Wilson dan Jennifer Aniston membuat filmnya lebih menarik lagi untuk ditonton. Menyentuh sekali saat melihat Jenny yang sempat menyuruh John untuk mengusir Marley, tetapi kemudian menyadari bahwa Marley adalah bagian dari keluarga Grogan, yang takkan mungkin dapat dipisahkan.
Marley and Me mungkin memang tidak sesedih Hachiko, tapi ceritanya lebih lengkap, padat dan dikemas dengan menarik. Banyak pelajaran tentang hidup berkeluarga yang patut disimak dalam film ini
Dasarnya saya memang suka film olahraga, disuguhi film berlatar Rugby ini ya langsung saya sikat saja. Hanya saja, Invictus ini lebih condong ke politik di mana olahraga dipakai oleh Presiden Nelson Mandela untuk meruntuhkan praktek apartheid di Afrika Selatan.
Kisah nyata Nelson Mandela di masa awal pemerintahannya ini sangat menarik untuk diikuti. Apalagi dibubuhi oleh olahraga Rugby, cerita menjadi lebih dinamis. Kejeniusan seorang Mandela begitu tampak di sini. Ketika orang2 kulit hitam ingin membubarkan tim rugby Afsel yang selama ini menjadi lambang superioritas kulit putih, Mandela berpikiran lain. Dengan tim ini, beliau justru ingin merobohkan tembok besar apartheid yang selama ini meluluhlantakkan rasa persatuan di negaranya.
Figur Nelson Mandela yang begitu bijaksana diperankan dengan sangat sempurna oleh Morgan Freeman. Kata2nya begitu penuh pesona dan berwibawa ketika menanamkan rasa persatuan dan semangat pantang menyerah kepada François Pienaar yang juga diperankan dengan apik oleh Matt Damon.
Film ini dipenuhi nilai2 positif tentang persatuan dan patriotisme, rasanya begitu menyegarkan bagai diguyur oleh air yang sangat sejuk. Pembangunan dalam suatu negara bisa berbuah manis jika didukung oleh semangat persatuan di antara rakyatnya. Dan hal ini hanya bisa terwujud jika semua rakyat diperlakukan secara adil oleh negaranya. Di tengah isu rasial yang tumbuh subur di Afsel, Nelson Mandela datang dengan sebuah jawaban.
Oke, berhenti menertawakan saya
Film yang diangkat dari kisah nyata dan disutradarai oleh Steven Soderbergh ini memang sudah pernah diputar di TV lokal, tapi saya baru saja menyaksikannya kemarin.
Yang paling menonjol dari film ini tentu saja buah dada akting Julia Roberts, pantaslah jika ia diganjar piala Oscar sebagai aktris utama terbaik. Aksinya menjadi pegawai rendahan di kantor hukum yang tiba2 mendapatkan kasus raksasa dari pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan energi di AS memang pantas diacungi jempol (hati2, banyak kata2 kotor yang terlontar dari mulutnya).
Agak mirip dengan The Informant, hanya saja kasusnya agak lebih mudah dipahami, mungkin karena dilihat dari sudut pandang Erin yang memang awam di bidang hukum. Adegan yang paling memorable tentu saja ketika dia berbicara dalam meeting dengan para petinggi PG&E, ceplas ceplos, tegas, berani dan membuat pejabat yang berpendidikan pun menjadi ciut, dahsyat.
Selain bercerita tentang aksinya sebagai pegawai di kantor hukum, kiprahnya sebagai seorang single parent dengan tiga orang anak yang masih kecil2 juga cukup menarik untuk diikuti. Kesuksesannya sebagai pegawai kantoran harus dibayar dengan meninggalkan anak2nya. Sebuah dilema yang sering dihadapi para single mother pekerja keras.
Mary and Max memiliki cerita yang cukup sederhana, tapi Adam Elliot mengemasnya secara luar biasa indah. Menarik menyaksikan Mary dan Max yang walaupun usia dan lokasi mereka terpaut jauh tetapi persahabatan mereka begitu tulus dan menyentuh, walaupun hanya melalui surat menyurat.
Seringkali penonton dibuat tertawa oleh kelucuan yang ditampilkan dalam komedi satir ini. Dengan diiringi musik yang ciamik, film ini tetap menggunakan teknik narasi seperti pada Harvie Krumpet, hanya saja naratornya adalah masing2 tokoh dalam film ini, yakni Mary dan Max. Mereka berdua kesepian, Max apalagi, sebagai penderita Asperger Syndrome, hidup memang menjadi lebih sulit.
Tapi seberapapun sulitnya hidup mereka, selagi mereka masih saling memiliki satu sama lain, hidup bisa menjadi lebih mudah dan indah. Ah, begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari persahabatan Mary dan Max, terlalu panjang jika harus dijelaskan dalam review singkat ini. Tonton filmnya, dan buktikan sendiri kedahsyatannya.
Kalau untuk film martial arts, sepertinya tidak perlu diperdebatkan lagi, China memang juaranya. Selain aktornya yang memang jago kung fu, koreografinya juga memikat di mana slow motion ditempatkan pada saat yang tepat. Kung Fu, sebuah aliran martial arts yang dikenal mempunyai gerakan2 yang cantik dan luwes, makin terlihat indah dalam film ini dengan proses editing yang apik.
Ceritanya? Yah sebenarnya sih biasa2 saja, pertarungan antar master Kung Fu demi mencari popularitas perguruan masing2. Hanya saja dalam film ini agak sedikit berbeda ketika settingnya bergeser ke masa pendudukan Jepang, di mana ceritanya menjadi lebih emosional dengan isu patriotisme.
Memang sih ujung2nya tetap duel, China melawan Jepang. Kung Fu versus Karate, tetapi memang itu yang kita tunggu2 bukan? Santai saja, manjakan mata anda dengan suguhan martial arts tingkat tinggi yang menawan, cepat dan dinamis diiringi dengan musik latar aduhai yang dibesut oleh Kenji Kawai. Oh ya Jendral Jepang, Miura kok mukanya agak familiar ya? Sepertinya dia pernah bermain sebagai murid dalam dorama Great Teacher Onizuka deh (CMIIW).
ALI… BUMAYEEE….
Film sport, tinju. Duh dua2nya adalah kegemaran saya. Walaupun nama besar dan prestasi Muhammad Ali sebagai seorang petinju kelas berat kenamaan telah tercipta sebelum saya lahir, tapi saya sangat menikmati film ini.
Kisah pertemanan sang legenda tinju ini dengan Malcolm X memang terkesan sebagai tempelan belaka, mungkin karena isunya terlalu sensitif. Tapi masalah penolakan Ali mengikuti wajib militer dikemas dengan sangat menarik, saya sangat menikmati cerita tersebut.
Secara fisik, Will Smith memang tidak begitu serupa dengan Ali. Tapi secara ketenaran, siapa bisa menyangkal? Mereka sama2 flamboyant dan maestro di bidangnya. Jika Ali naik ring, semua menanti, tua dan muda. Jika Smith main film, selalu saja mencetak Box Office. Oh ya, ada 1 momen menjelang akhir film, ketika Will Smith benar2 terlihat sangat mirip dengan Muhammad Ali? Tak percaya? Buktikan saja sendiri.
Film yang diangkat dari kisah nyata di Jepang ini sebenarnya memiliki cerita yang cukup simpel. Tentang kesetiaan seekor anjing yang senantiasa mengantar tuannya ke stasiun dan menjemputnya kembali saat sang tuan selesai bekerja.
Tapi coba saksikan terus filmnya, saya yakin hampir semua penonton akan menangis melihat kesetiaan sang anjing. Klimaksnya membuat dada sesak, endingnya tak pelak bahkan membuat saya-yang-jarang-nangis-karena-nonton-film, menitikkan air mata
Hal ini tak lepas dari begitu manisnya permainan ketiga anjing asal Jepang dari jenis akita. Mereka shooting bergantian menjadi Hachi. Mereka gagah tapi sekaligus juga lucu dan loveable. Mimik mereka yang imut turut merobek2 perasaan penonton. Salut bagi pelatih ketiga ekor anjing tersebut yang mampu mengarahkan mereka agar dapat bermain sebaik itu.
Jadi tunggu apalagi? Segera tonton film Hachiko ini, jangan lupa siapkan kain pel dan ember untuk mambasuh dan memeras banjir air mata anda