We Bought a Zoo

March 24, 2012 Leave a comment

Sepintas saat menyaksikan film ini, saya teringat oleh sebuah dokumenter di Natgeo yang mengisahkan sepasang suami istri yang memiliki Kebun Binatang sendiri. Tetapi bedanya, dalam film ini, Benjamin baru saja ditinggal istrinya dan harus menjadi single parent bagi Dylan yang pemberontak dan Maggie kecil yang lucu dan menggemaskan.

Kisahnya sendiri bercerita tentang Benjamin yang tiba2 mengambil keputusan nekat dan akan mengubah hidup keluarga Mee selamanya dengan membeli rumah baru dan sekaligus dengan kebun binatang yang ada di area tersebut, jauh dari pusat keramaian. Ya, selain berkutat dengan masalah zoo management yang mengalami maslah finansial, film ini juga mengangkat bagaimana Benjamin harus move on dari pekerjaan lamanya dan juga dari istrinya yang baru saja meninggal. Belum lagi masalah klise yang harus dihadapi Benjamin, menghadapi perilaku Dylan yang berubah menjadi temperamental semenjak ditinggal oleh ibunya.

Tapi syukurlah ada Maggie, bocah perempuan lucu yang berhasil menjadi scene stealer dalam film ini. Tingkahnya yang begitu polos dan menggemaskan benar2 menghibur, salut lah untuk aktingnya dalam film ini. Adegan ketika memilah barang saat akan pindahan pun langsung menjadi favorit saya, lucu sekali mimik muka si Maggie.

Akhir kata, We Bought a Zoo adalah film keluarga yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kehidupan memang terkadang bisa menjadi sangat sulit, tetapi hanya butuh keberanian selama 20 detik untuk mengambil sebuah keputusan yang sesuai dengan yang kita inginkan. Jadi, beranikah anda meninggalkan zona nyaman anda?

Tendangan Dari Langit

September 5, 2011 1 comment

Awalnya jujur saya sama sekali tidak tertarik menyaksikan film ini karena posternya yg terlihat murahan. Tapi justru saya makin penasaran karena semua review dari berbagai media yang mengulas film ini membuat kesimpulan yg sama. Positif. Saat itu saya hanya berpikiran bahwa film ini hanya menjual nama besar Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Baru kemudian saya tahu bahwa sutradaranya adalah Hanung Bramantyo yg sebelumnya sukses membesut film Sang Pencerah.

Dan setelah saya menyaksikan filmnya. Saya benar2 terlonjak kegirangan, lagi2 Hanung berhasil menciptakan sebuah film yang sungguh brilian, sekalipun memasang muka baru sebagai pemain utamanya. Akting yang baik, chemistry yg kuat diantara para pemain dan cerita yg menohok memang nyaris membuat film ini sempurna. Kalaupun ada kekurangan mungkin dari segi cerita, karena ada sebuah konflik yang sayangnya agak dibuat2 jadi terkesan agak dipaksakan. Tapi percayalah, itu hanyalah masalah minor yg tidak terlalu mempengaruhi jalinan keseluruhan ceritanya yang memang ciamik.

Oh ya jangan lupakan kritik2 pedas yg tersebar di sepanjang film ini, tajam tapi dikemas dengan baik sehingga tak terkesan menggurui. Yah kira2 memang begitulah potret buram persepakbolaan di negeri ini. Film ini memang wajib ditonton. Tak percaya? Jangan salahkan saya jika anda merasa ingin standing ovation di bioskop saat mendengar kata2 terakhir yg diucapkan oleh Wahyu sebelum credit title bergulir.

TV LCD Baru

April 7, 2011 Leave a comment

Ceritanya kemarin itu saya melihat ada iklan TV LCD murah di surat kabar. Maka pulang kantor saya sempatkan mampir ke hyper market yang mengiklankan tersebut. Dan, yay, akhirnya saya membawa pulang sebuah TV LCD mini berukuran 22″. Memang ukurannya tidaklah besar, tapi saya rasa cukuplah untuk diletakkan di kamar. Lumayan untuk menyaksikan film2 hasil download. Dahulu memang saya hanya bisa menyaksikan film2 tersbut via netbook mungil saya yang ukuran monitornya hanya 10″.

Idealnya sih saya membeli sebuah alat lagi, High Definition Media Player. Tapi untuk itu saya harus merogoh kocek lagi sekitar Rp 900.000an untuk sebuah HD media player murah tapi branded. Itu pun agak susah dicarinya, harus hunting dulu ke mangga dua, atau kalau malas jalan, bisa pesan antar via inet. Dan saya memutuskan, untuk saat ini, saya belum membutuhkan alat tersebut. Jadi saya cukup membeli sebuah kabel VGA untuk menghubunngkan netbook dengan TV LCD saya. Read more…

Categories: Ngoceh Film Tags: , , , ,

Tak Hanya Sekadar Godaan Mrs Robinson (via Dunia Platonis)

April 7, 2011 Leave a comment

Resensi menarik dari seorang kawan tentang film lawas yang sangat layak tonton, The Graduate

Tak Hanya Sekadar Godaan Mrs Robinson   Sungguh menakjubkan untuk dapat menyaksikan The Graduate 44 tahun setelah dirilis. Tidak hanya mengakui kemahiran Mike Nichols (Closer, Charlie Wilson’s War) membesut film sepanjang empat dasawarsa lebih, tetapi jalan cerita yang relatif masih dapat diterima hingga kiwari. Banyak yang mengenang The Graduate dengan line termasyhurnya, “Are you try … Read More

via Dunia Platonis

Categories: ReBlog, Review Film

Flipped

April 7, 2011 Leave a comment

Saat membaca resensi film ini di IMDB, saya pikir ini hanya sekedar film cinta monyet biasa. Ternyata yang saya dapat lebih dari itu, jauh lebih banyak dan lebih baik dari yang saya perkirakan sebalumnya.

Film adaptasi novel yang disutradarai oleh Rob Reiner ini memang tidak hanya bercerita tentang kisah cinta anak SD yang beranjak SMP, Bryce Loski dan Julianna Baker. Tapi di dalamnya terselip juga kisah mengharukan tentang masalah keluarga, hubungan antar tetangga dan juga kasih sayang seorang kakak kepada adiknya

Keburukan keluarga Baker di mata keluarga Loski sangat menarik untuk disimak. Sekali lagi kita diingatkan bahwa jangan terlalu mudah memberikan pandangan tentang apa yang sebenarnya tidak ketahui. Don’t judge a book by its cover, tak kenal maka tak sayang. Simak pula ketika Bryce berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Juli, tapi ternyata tindakan tersebut malah membuat hati Juli pedih dan malah membenci Bryce.

Oh ya, pemaparan cerita di film ini menggunakan alur maju mundur. Setiap kisah diceritakan dalam 2 sudut pandang, diawali oleh Bryce dan kemudian dilanjutkan oleh Juli. Banyak monolog yang menarik, menyentuh, dan cukup berhasil mengaduk emosi penonton. Salah satu kalimat yang saya suka kira2 bunyinya begini: “Kami memang bukan orang kaya, tapi kami tidak pernah merasa kekurangan”. Ouch, sungguh menohok di hati. Chemistry antara Juli dan Bryce juga terjalin dengan sangat baik dalam kisah love-hate relationship ini.

Ah, Flipped ini memang benar2 sebuah film keluarga yang sangat manis, dan telah lama saya rindukan kehadirannya.

RAN

January 13, 2011 3 comments

Ran, inilah film kolosal terakhir Akira Kurosawa yang dibuat dengan budget besar. Bercerita tentang suksesi kepemimpinan War Lord Ichimonji yang yang ternyata berakhir tidak sukses. Rencana yang disusun oleh Hidetora tua, sang pimpinan klan Ichimonji, untuk membagi kekuasaan kepada ketiga anak laki2nya, Taro, Jiro, dan Saburo ternyata berbuah tragis dan dipenuhi oleh genangan darah.

Film yang berdurasi 160 menit ini memang cukup membosankan, tetapi walaupun berpotensi untuk membuat ngantuk, ceritanya cukup membuat saya penasaran dan menyaksikan sampai filmnya berakhir. Diawali dengan pembagian kekuasaan yang tragis, film ini berakhir dengan lebih tragis lagi, membuat RAN sangat pas untuk masuk kategori nihilis. Ya, bahkan para dewa tak mampu menyelamatkan umat manusia kali ini :p

Walaupun film kolosal, tetapi ciri khas Akira Kurosawa dalam menampilkan akting yang kuat memang tak pernah pudar. Yang paling menonjol, tentu saja ditunjukkan oleh pemeran Lord Ichimonji sendiri, Hidetora, yang beranjak tua dan kemudian kehilangan kewarasannya. Dan yang tak kalah kuatnya, bukan ketiga anak Hidetora, melainkan Lady Kaede yang merupakan istri dari putra pertama Hidetora. Wuh, aktingnya sangat memukau dengan menampilkan seorang istri yang sangat ambisius dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Jadi, ada baiknya siapkan diri anda terlebih dahulu sebelum menyaksikan film ini, jangan sampai mengantuk di tengah jalan saat menyaksikan sajian berkualitas dari sang maestro Akira Kurosawa.

Madadayo

January 8, 2011 Leave a comment

Inilah, film terakhir yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Walaupun mendapat respon yang kurang bagus dari publik, entah mengapa, saya sangat menyukai film beliau yang terakhir ini. Dari 3 filmnya yang sudah pernah saya saksikan, rasa2nya Madadyo menjadi yang terfavorit.

Filmnya sendiri, seakan terdiri dari beberapa cerita yang terhubung satu sama lain, mulai dari ketika sang profesor mengundurkan diri dari kampus, hingga perayaan ultahnya terakhir bersama mantan murid2nya. Menonton madadayo ini seperti menyaksikan beberapa film drama pendek yang dirangkum ke dalam satu film panjang.

Bisa dibilang film ini adalah film yang membosankan. Karena durasi yang panjang (134 menit) hanya dipenuhi oleh dialog2 sang profesor dengan murid2nya. Tapi entah kenapa saya tidak merasa bosan dengan film ini, justru saya sangat menikmati cerita2 yang dihadirkan dalam film yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini.

Turut tertawa ketika melihat lucunya cara si Profesor dalam menghadapi pencuri yang mungkin masuk ke rumahnya. Ikut sedih melihat rumah gubuk yang ditempati beliau dan sang istri paska perang dunia kedua. Trenyuh melihat kebaikan tetangga baru beliau. Bahkan cerita simpel tentang kehilangan kucing pun bisa menjadi kisah yang menarik di tangan Akira Kurosawa.

Belum lagi pesta ultah yang belakangan diadakan untuk menghormati Profesor dalam usia tuanya. Benar2 sangat dalam maknanya. Lihat saja jawaban madadayo (not yet) yang selalu diberikan oleh Profesor. Apakah itu berarti bahwa: setiap manusia takkan pernah siap untuk mati, tak peduli seberapa senior maupun seberapa banyak bekal yang kita miliki. Ya itulah manusia, selalu takut akan kematian.

Atau: bisa juga kan kita berpikir lebih positif? Tak peduli seberapa terpuruk keadaan kita, sebarapa buruk hari yang kita lalui, asal kita masih punya semangat yang menyala untuk tetap hidup untuk berkarya, semuanya pasti akan bisa kita lalui dengan baik.

Tapi yang pasti, sentuhan Akira Kurosawa membuat film yang sederhana ini menjadi menarik untuk ditonton. Rasanya seperti, sang maestro menumpahkan seluruh jiwanya ke dalam film ini. Segar dan bersemangat.

Categories: Review Film Tags: ,